Insight Talenta

Bagaimana Menjaga Bisnis agar Tetap Bertahan di Tahun 2022

Bagaimana bisnis dapat bertahan menghadapi 2022? Meski kondisi pandemi Covid-19 sudah mulai menunjukkan tanda-tanda positif, masih terlalu cepat untuk mengatakan bahwa tahun depan kondisi bisa 100% pulih.

Bahkan, mungkin saja kondisi tidak akan kembali lagi sepenuhnya sehingga kita harus beradaptasi dengan bagaimana kita beraktivitas pasca pandemi. Termasuk dalam bagaimana kita mengelola bisnis di tahun 2022 dan seterusnya.

Topik ini dibahas secara menarik oleh tiga pembicara dalam salah satu sesi webinar bertajuk Managing Business in 2022 pada Mekari Conference 2021 yang diselenggarakan secara virtual.

Ketiga pembicara tersebut adalah Bhima Yudhistira selaku Director dari Center of Economic and Law Studies, Tessa Wijaya sebagai Co-Founder dan COO dari Xendit, serta Italo Gani selaku Venture Partner dari East Ventures sekaligus Managing Director dari Impacto.

Seperti apa kira-kira perkembangan bisnis di 2022? Simak beberapa pemaparan dari ketiga pembicara di artikel berikut.

Kilas Balik Tren UMKM dari Awal Pandemi Hingga 2021

bisnis 2022

Kita tahu satu fakta bahwa sektor ekonomi mengalami kemerosotan yang cukup signifikan akibat pandemi. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

Di tahun 2020 tepatnya saat awal pandemi, banyak pebisnis yang mengalami adanya penurunan pendapatan, terutama di sektor UMKM. Hanya sedikit yang mampu bertahan hingga saat ini.

“Menurut studi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, 84% UMKM mengalami penurunan pendapatan sejak 2020. Namun sebagian kecil sisanya beberapa masih memiliki pendapatan. Mereka yang bertahan karena 3 hal. Karena punya cash flow, mereka bisa restrukturisasi kredit, dan bisa mengadopsi digitalisasi dengan cepat,” ujar Bhima.

Namun pada kuartal tiga 2021, tepatnya di bulan September, terlihat bahwa tren belanja masyarakat mulai mengalami peningkatan, baik secara online maupun offline. Dengan kembalinya tren berbelanja ke toko fisik, tidak serta-merta membuat masyarakat juga lupa dengan digitalisasi di mana mereka sudah terbiasa belanja secara online.

“Apakah kita akan kembali lagi pada masa-masa sebelum pandemi, dengan melakukan transaksi secara manual? Jawabannya tidak. Jadi ada hal yang permanen, yang mengubah perilaku pelaku usaha maupun masyarakat,” lanjut Bhima.

Misalnya, meskipun toko fisik sudah mulai buka, jika mereka tidak menawarkan opsi pembayaran menggunakan QR code atau dompet digital, mungkin saja pembeli akan pindah ke toko lain.

Perilaku ini kemungkinan besar akan menjadi permanen ke depannya, sehingga UMKM harus segera mengadopsi digitalisasi agar tetap bisa bersaing.

Tantangan yang akan Dihadapi Bisnis di Tahun 2022

Selain proses adaptasi digitalisasi, kira-kira apa saja yang akan menjadi tantangan untuk para pebisnis ke depannya?

Bhima mengatakan bahwa ada beberapa hal jadi tantangan besar bagi para pemilik bisnis di tahun 2022. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kenaikan biaya produksi
  • Inflasi yang jauh lebih tinggi
  • Kebijakan perpajakan, di mana PPn akan dinaikan menjadi 11% pada April 2022 mendatang
  • Kenaikan suku bunga pinjaman

Meski ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para pemilik bisnis menghadapi 2022, mereka mampu bertahan sejak awal pandemi akan lebih siap menghadapinya.

Pandemi membuat mereka belajar banyak hal untuk beradaptasi. Sehingga walaupun ada varian baru yang dapat menjadi tantangan, diharapkan para pebisnis sudah memiliki strategi untuk tetap bisa survive.

Baca juga: Tingkatkan Customer Experience dengan Omnichannel Platform yang Terintegrasi

Dampak Pandemi Terhadap Tren Investasi dan Perkembangan Bisnis Startup di 2022

Bisnis startup yang sebagian besar sudah bergantung pada digitalisasi sejak berdiri, melihat pandemi sebagai suatu kondisi yang membuat mereka cepat beradaptasi dengan mengerjakan segala sesuatu secara remote.

“Pandemi Covid-19 mewajibkan kita melakukan sesuatu secara remote. Adanya startup yang empowering ekosistem yang berubah dengan melakukan berbagai macam proses secara remote, membuat perkembangan startup di Indonesia jadi luar biasa dan membuat hampir semua sektor jadi lebih efisien,” ujar Italo.

Kematangan masyarakat dalam beradaptasi dengan remote-based transaction menjadi penting karena dapat membuat banyak proses jadi lebih efisien, seperti belanja, bekerja, hingga belajar secara online.

Sementara itu di sisi investasi di masa pandemi trennya cenderung mengalami kenaikan. Dengan melihat kondisi pandemi Covid-19, justru dibutuhkan berbagai inovasi dari startup teknologi untuk mendukung para UMKM.

Jadi, hadirnya teknologi dalam proses bisnis yang remote-based bukan hanya sebagai solusi untuk berjaga jarak, tetapi juga karena pebisnis mulai menyadari bahwa dampak efisiensinya jadi sangat nyata.

Meskipun demikian, tidak semua sektor mengalami kenaikan dari segi investasi. Misalnya saja sektor pariwisata yang sejak awal jadi salah satu sektor dengan dampak yang cukup parah karena pandemi.

Baca juga: Transformasi HR Menuju Digitalisasi dan Perspektif Holding Company

Bagaimana Mengelola Bisnis di Tahun 2022

Satu hal yang pasti, di tahun depan pun akan ada perilaku kerja yang tetap permanen untuk dijalankan, yakni bekerja remote.

“Pandemi membuat perilaku kerja juga berubah secara drastis. Akan ada keseimbangan antara remote work dan work from office,” ujar Tessa.

Ini membuat perilaku bekerja karyawan mungkin berubah selamanya. Banyak perusahaan yang merasa bahwa ternyata efisiensi juga bisa didapatkan meski karyawan bekerja secara remote. Kini beberapa perusahaan menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi memaksakan karyawan untuk bekerja full di kantor.

Selain itu Tessa juga mengungkapkan bahwa fokus startup saat ini adalah bagaimana mereka tetap harus bisa meningkatkan pertumbuhan bisnis agar dapat dilirik oleh investor di tahun 2022 hingga ke depannya.

Kemudian terkait prospek bisnis di tahun 2022, mengingat bahwa saat ini Covid-19 terus bermutasi dengan kemunculan Omnicron yang terbaru, kita tidak tahu bagaimana kondisi ke depannya.

Terlebih para perusahaan yang menyediakan vaksin seperti Pfizer atau pun Moderna juga masih meneliti lebih lanjut mengenai varian baru ini.

Dengan adanya kondisi yang masih berpusat pada kondisi pandemi, Bhima mengatakan bahwa mungkin saja di tahun 2022, bisnis sektor health tech dan juga edu tech akan mengalami kenaikan. Mengingat banyak institusi pendidikan yang juga masih ragu untuk mengadakan pembelajaran tatap muka.

“Strategi selanjutnya bagi pengusaha, mengingat suku bunga akan naik, sekarang adalah waktu yang pas untuk pemilik bisbis menarik pinjaman dari bank sebelum 2022,” tambah Bhima.

Hal menarik lainnya yang patut jadi catatan adalah downsizing. Meski secara keseluruhan kondisi ekonomi mulai mengalami pemulihan, namun belum cukup untuk kembali seperti sebelum masa pandemi.

Banyak masyarakat kecil dan menengah yang sudah memiliki cukup uang, namun belum berani dalam meningkatkan daya beli mereka.

Artinya, pelaku usaha perlu memikirkan strategi untuk mengurangi kuantitas atau menurunkan harga produk mereka. Agar dapat dijangkau oleh masyarakat, terutama mereka yang masih dalam pemulihan kondisi keuangan.

“Di sini, downsizing bisnis jadi penting, pelaku usaha bisa membuat paket-paket atau produk yang minim dan bisa dijangkau, namun tetap bisa survive meski dengan margin yang tipis,” tambah Bhima.

Di satu sisi, Tessa menuturkan bagi masyarakat ataupun pebisnis yang ingin meminjam ke bank mungkin akan jadi lebih sulit. Institusi perbankan maupun non bank melihat dengan non performing loan-nya naik maka akan lebih sulit bagi mereka untuk memberikan pinjaman.

“Xendit memiliki data dari para merchant, sehingga kami lebih teredukasi jika ingin mengambil keputusan berdasarkan data-data yang kami miliki. Misalnya, apakah benar bahwa merchant ini memiliki pendapatan sekian. Sehingga bisa jadi pertimbangan apakah merchant tersebut diperbolehkan mengambil pinjaman atau tidak,” tambah Tessa.

Ini jadi momentum lain bagi fintech untuk menjadi institusi alternatif yang memberikan pinjaman bagi para pebisnis selain bank.

Tantangan bagi Beberapa Sektor Industri di Indonesia

Di Indonesia sendiri, investasi terus-menerus diserukan, baik dari sisi pemerintah maupun dari para pebisnis. Banyak yang melihat bahwa persiapan Indonesia tidak hanya jangka pendek saja, namun hingga ke berpuluh-puluh tahun ke depan.

Namun di satu sisi, hal ini menimbulkan tantangan di beberapa sektor industri. Di masa pandemi permintaan meningkat, namun beberapa sektor tidak mampu memenuhi demand tersebut.

“Ada challenge di beberapa sektor seperti pertanian, pertambangan, hingga ke manufaktur, termasuk investasinya dalam persiapan di bahan baku dan juga teknologi. Hal tersebut agar proses kerja di sektor tersebut dapat efisien di kondisi pasca pandemi. Beberapa sektor bisa jadi sektor champion seperti pertanian dan butuh platform baru dengan yang teknologi agar dapat survive,” ujar Bhima.

Sehingga, sektor bisnis manapun yang bisa survive di masa seperti sekarang ini, kemungkinan besar sektor tersebut akan bertahan tidak hanya di tahun 2022, tapi juga lebih lama ke depannya.

“Investasi akan tetap masuk ke Indonesia karena memiliki potensi yang besar. Ini jadi peluang besar bagi UMKM untuk cari opportunity, belajar dari startup yang sudah ada, dan mendapatkan funding,” tambah Tessa.

Sebagai kesimpulan untuk hadapi 2022, adanya pandemi memunculkan kesempatan baru bagi dari sektor manapun untuk dapat belajar dari bisnis-bisnis yang dapat bertahan dari 2020 hingga 2021, sekaligus merangkul proses digitalisasi.

Dengan beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat yang kini sudah berubah sepenuhnya, pebisnis yang dapat melihat peluang tersebut akan bisa bertahan dalam menghadapi 2022 dan mungkin tahun-tahun berikutnya.

Nah, jika perusahaan Anda tertarik untuk memulai digitalisasi proses administrasi HR, Anda bisa mencoba Talenta.

Talenta sebagai software HRIS memiliki berbagai solusi yang membuat proses administrasi HR Anda jadi lebih efisien. Pelajar Talenta lebih lanjut dengan klik banner di bawah ini.


PUBLISHED08 Dec 2021
Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah