Karyawan Positif COVID-19, Bagaimana Sikap Perusahaan?

Karyawan Positif COVID-19, Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan? – COVID-19 menjadi pandemi global yang berkembang cepat di berbagai negara. Masalah kompleks yang terjadi akibat COVID-19 pun juga dirasakan oleh pemilik perusahaan. Di antaranya adalah karyawan positif COVID-19. Perusahaan, dalam hal ini tentu harus mengantisipasi agar perusahaan tidak menjadi “kontributor” bertambahnya kasus COVID-19 di wilayahnya dalam hal ini adalah Indonesia. 

Melakukan penanganan karyawan positif COVID-19 bukanlah hal mudah. Perlu ada pendekatan kemanusiaan dan tindakan cepat dari manajemen. Lalu bagaimana sikap perusahaan dalam menghadapi dan menangani karyawan positif COVID-19?

Sampaikan Simpati

Karyawan Anda adalah manusia. Hal yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam menghadapi karyawan positif COVID-19 adalah memberikan simpati dan engagement. Meski gejala yang dialami ringan, perusahaan harus berperan sebagai caretaker karyawan. Hal ini perlu keterlibatan top management, termasuk CEO. 

Buatlah karyawan agar tidak cemas dan berikan kata-kata penyemangat. Tidak ada perusahaan yang tidak memberikan jaminan kesehatan. Dalam hal ini, perusahaan juga harus berperan dalam memberikan jaminan kesehatan sebagai bentuk simpati material kepada karyawan yang terjangkit.

Bertindak Cepat dengan Berkoordinasi dengan Tim HR

Peran HR di saat ada karyawan positif Virus Corona adalah bertindak cepat dan berkoordinasi dengan semua unit divisi termasuk HR. Perusahaan harus membuat langkah strategis untuk menghindari penyebaran inter-perusahaan.

Transparan 

Pertama, tim HR harus transparan kepada semua jajaran karyawan dengan mengedarkan pengumuman bahwa salah satu karyawan telah terinfeksi COVID-19. Karyawan dapat membuat pengumuman melalui platform komunikasi kerja seperti Flock, Trello, Monday, atau Talenta.

Dalam pengumuman, HR harus mengimbau kepada seluruh karyawan untuk terbuka jika memang memiliki kontak terdekat dengan karyawan yang terinfeksi.

Note: COVID-19 membuat perusahaan cepat beradaptasi dengan teknologi, lalu bagaimana perusahaan terutama HR menyikapi hal tersebut? Pelajari selengkapnya melalu eBook Wajah Baru Strategi HR di Era Industri 4.0  yang dapat Anda unduh gratis!

Melakukan Survey Pemetaan “Kontak Terdekat Pasien”

Kedua, tim HR harus membuat survey kepada seluruh karyawan. Hal itu dilakukan untuk memetakan kontak terdekat dengan karyawan yang terinfeksi. Menurut CDC, kontak terdekat infeksi adalah orang yang melakukan kontak langsung atau orang yang memiliki jarak 2 meter dengan terinfeksi. 

Survey pemetaan kontak karyawan juga dilakukan dengan faktor eksternal. Apakah karyawan pernah mengunjungi dan berkontak langsung dengan orang yang berada pada wilayah zona merah atau titik penyebaran. Selain itu dalam survey juga harus berisi pertanyaan terkait penyakit yang sedang dan telah diderita oleh karyawan dalam rentan waktu satu bulan.

Namun ingat, dalam melakukan survey, tim HR harus melakukan pendekatan humanis. Karena secara psikis, beberapa orang mengalami psikosomatis dan kekhawatiran lebih bahwa orang yang terinfeksi COVID-19 adalah vonis mati dan aib. Oleh karena itu pendekatan sensitif dan humanis perlu dilakukan oleh tim HR. Misalnya, membuka survey melalui private channel seperti video call atau phone call.

HR harus mengedepankan privasi dan mental karyawan yang positif COVID-19

Setelah survey dilakukan, tim HR harus menginstruksikan kontak terdekat untuk melakukan isolasi diri. HR dalam hal ini juga harus memantau kondisi karyawan yang memiliki kontak terdekat terinfeksi sesuai dengan masa inkubasi.

Tim HR juga harus melakukan komunikasi intensif dengan setiap divisi untuk menenangkan situasi agar karyawan tidak panik dan perusahaan harus terus berjalan.

Baca juga: Begini Ketentuan Gaji Karyawan Positif COVID-19!

Bijak dalam Menanggapi Aturan Kerja

Banyak perusahaan yang masih mengabaikan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 tentang cuti dan juga mengabaikan perintah pemerintah dan surat edaran kepala daerah masing-masing untuk melakukan aktivitas kerumunan salah satunya adalah pergi kerja ke kantor saat pandemin Virus Corona.

Dalam Pasal 153  UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 bahwa perusahaan harus tetap menjamin gaji karyawan yang sakit dengan pemotongan gaji bertahap tiap 4 bulannya jika memang karyawan tersebut sakit berkepanjangan.

Dalam hal ini, kasus karyawan positif COVID-19, atau karyawan Pasien Dalam Pemantauan berhak mendapatkan paid leave selama mendapatkan surat keterangan dokter rumah sakit yang menangani karyawan tersebut sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.

Berlakukan Work From Home

Penting bagi perusahaan untuk memberlakukan work from home kepada tiap karyawan. Hal ini mengacu pada anjuran WHO untuk melakukan social distancing dan juga physical social distancing. Perusahaan mau tidak mau harus beradaptasi dengan sistem kerja baru, work from home.

Melakukan work from home juga sebenarnya melatih perusahaan untuk bersiap menghadapi era reformasi bisnis yang lebih cepat, volatile, terbuka dan fleksibel

Dalam menerapkan work from home perusahaan juga perlu menggunakan software HR. Salah satunya Talenta yang dimana dapat membantu karyawan positif COVID-19 mengirim surat keterangan rumah sakit melalui smartphone dan mengajukan time off. Selain itu software HR juga membantu karyawan work from home untuk melakukan absensi dari rumah. Cari tahu selengkapnya mengenai produk Talenta di website Talenta atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Talenta secara langsung.

 

Baca juga artikel lainnya terkait COVID-19

 


PUBLISHED05 May 2020
Hafidh
Hafidh

SHARE THIS ARTICLE: