Gelombang Kedua Pandemi, Bagaimana Situasi Tenaga Kerja dan Keuangan?

Gelombang Kedua Pandemi, Bagaimana Situasi Tenaga Kerja dan Keuangan?

Pemutusan hubungan kerja di satu startup besar Indonesia akhir bulan Juni ini cukup membuat terkejut masyarakat. Di samping jumlah PHK yang cukup besar, yaitu berjumlah 430 orang atau 9% dari total karyawan, alasan PHK berupa penghentian layanan yang terdampak pandemi Corona, juga semakin mempertegas adanya ancaman di dunia usaha. Pertanyaannya, apabila sampai terjadi gelombang kedua pandemi, bagaimana situasi tenaga kerja?

Tantangan Keuangan Gelombang Kedua Pandemi dan Sikap Manajer Keuangan

PHK pada bisnis yang terdampak Corona tidak hanya terjadi di Indonesia. Tercatat pada gelombang pertama pandemi (awal tahun 2020 sampai dengan April 2020), di Amerika ada 26% manajer keuangan yang merencanakan PHK. Hal ini meningkat dari sebelumnya hanya 16% manajer keuangan yang merencanakan PHK di bulan Maret 2020. Hal ini dapat diketahui dari survei yang diadakan oleh Pricewaterhouse Coopers secara berkala dari bulan Maret sampai dengan Juni 2020.

Survei terbaru di awal bulan Juni menyatakan, dari berbagai perusahaan dengan latar belakang negara dan kondisi wabah yang terjadi, 53% manajer keuangan yang mengisi survei memperkirakan adanya penurunan penghasilan/ laba perusahaan. Untuk memperbaiki hal tersebut 63% berencana untuk melakukan perubahan atas produk dan jasa yang ditawarkan.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia, beberapa perusahaan memilih untuk menghentikan layanan yang terdampak Corona dan berfokus pada lini usaha yang mengalami kenaikan sales.

Baca Juga: Pemicu Perubahan Itu Bernama COVID-19

Insight dan Strategi yang Dinilai Efisien Menurut Manager HR

Perubahan layanan serta dampak keuangan yang dialami oleh perusahaan tersebut tentu akan memiliki pengaruh terhadap situasi yang akan dialami oleh tenaga kerja. Namun, kabar baiknya adalah berdasarkan survei di atas, sebagian besar manajer optimis dengan beberapa perencanaan terkait HR yang sebelumnya telah dilakukan.

Berikut adalah insight yang didapatkan dari para manajer yang mengikuti survei tersebut:

  • 75% manager akan menerapkan protokol baru dalam rangka pencegahan dan penanggulangan wabah di tempat kerja,
  • 72% manager mendesain tempat kerja yang sesuai untuk mendukung physical distancing,
  • 52% manager merencanakan untuk meningkatkan pengalaman bekerja secara remote,
  • 52% manager merencanakan untuk menetapkan sistem kerja working from home sebagai sistem kerja permanen,
  • 50% manajer berencana untuk mengakselerasi sistem kerja yang baru dimana akan lebih banyak otomasi demi pekerjaan yang lebih efisien.

Walaupun ancaman pemutusan hubungan kerja akan selalu ada di tengah pandemi, namun, apabila strategi-strategi yang telah direncanakan di atas dapat dieksekusi dengan tepat, maka hal tersebut tidak hanya akan menyelesaikan masalah keuangan perusahaan dan masalah tenaga kerja, melainkan dalam jangka panjang akan menguatkan organisasi. Keyakinan tersebut dinyatakan oleh 75% manajer, bahkan 65% manager yang mengisi survei PwC juga menyatakan keyakinannya akan ketahanan dan fleksibilitas strategi yang telah disusun.

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menguatkan strategi HR tersebut di atas adalah:

  • Perusahaan akan membutuhkan sarana pendukung yang dapat diandalkan di mana saja dan kapan saja,
  • Perusahaan harus mengembangkan perilaku atau budaya baru bagi tenaga kerja,
  • Perusahaan harus mengembangkan kebijakan terkait insentif,
  • Pemimpin perusahaan harus peka terhadap kesejahteraan tenaga kerja (khususnya pada manajemen waktu, dukungan kesehatan mental dan kebutuhan individu lain terkait wabah).

Hal-hal di atas dianggap penting agar karyawan dapat tetap produktif, dapat berkolaborasi dengan karyawan lain serta tetap kreatif di tengah sistem kerja yang baru dan situasi-situasi yang tak terduga.

Baca Juga: Panduan Kembali Bekerja di Kantor dengan Aman saat New Normal

Apabila perusahaan Anda belum memiliki sistem informasi HR, ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk menggunakan HRIS digital berbasis cloud seperti Talenta. HRIS digital dinilai berhasil menjadi sarana pendukung yang bermanfaat dalam kelancaran penerapan kebijakan HR jarak jauh. Penggunaan Cloud juga memiliki keunggulan karena investasinya yang relatif lebih murah dan cepat di masa pandemi ini.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang fitur-fitur Talenta, Anda dapat mengisi formulir berikut ini, untuk mendapatkan demo produknya secara gratis.

 


PUBLISHED02 Jul 2020
Emanuelle
Emanuelle