Melangkah memasuki kantor Indosat Ooredoo, Anda bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi di dalam tubuh salah satu operator telekomunikasi ini. Tak ada sekat di ruang bekerja, design pun terasa menyenangkan, fun dengan warna-warni yang penuh semangat. Transformasi, adalah kata-kata yang dekat dengan Indosat. Transformasi pula adalah sesuatu yang melekat dengan Ripy Mangkoesoebroto, Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo.
Ripy bergabung di Indosat Ooredoo bulan November 2012. Lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan MsC di bidang Education and Training System Design dari University of Twente Belanda ini telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia Human Resources. Sebelum bergabung dengan Indosat, Ripy mengepalai Human Resources di AXA Indonesia, bagian dari AXA Group yang merupakan salah satu perusahaan asuransi terbesar di dunia.
Kini, Indosat Ooredoo mencatatkan 81,6 juta pelanggan (pada kwartal ketiga 2016) dan kenaikan 114,2% dalam penggunaan data dibandingkan tahun lalu. Didukung oleh 4,000 karyawan, Indosat Ooredoo berhasil mencatatkan kenaikan revenue 9,9 % pada tahun 2016. Perusahaan yang kini mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan Qatar Ooredoo ini mendapat penghargaan The Most Innovative Company of the Year pada 2015 Asia Pacific Stevie Award.
Pencapaian Indosat Ooredoo tentu saja tidak lepas dari kinerja people di belakangnya, dan transformasi yang sedang berjalan di perusahaan itu. Kepada team TALENTA Ripy menceritakan transformasi itu dilakukan dari Symbol, System, dan Behavior. Selain itu, kami juga meminta sharing beliau tentang perjalanan karirnya yang tentu saja dapat menjadi inspirasi berharga bagi teman-teman praktisi HR.

Mari kita simak langsung penuturan beliau melalui obrolan singkat bersama team TALENTA berikut ini.
Bagaimana ibu mengawali karir di HR?
Sejak masih kuliah di Psikologi, perhatian saya sudah terarah ke How people can develop and grow and being productive. Being productive ini konteksnya bisa macem-macem, tetapi yang menjadi interestku adalah being productive in corporation.
Karena itu my early career, bahkan sejak masih kuliah, adalah menjadi training assistant. That was my passion originally.
Kemudian aku masuk ke korporasi. Karir pertamaku jadi asisten manajer di Learning and Development. After sometime, engga terlalu lama, aku berpikir, aku perlu memahami konsep. Jadi aku pindah ke HR consulting, yang fokusnya di L&D juga.
Nah mulai terasa, kalau kita di consulting, we will know, perhaps the concept, tetapi kita bisa gak? Can we do what we preach? Itu yang kemudian membuatku tergerak untuk, we have to be able to deliver. Ternyata di L&D aku merasa ada yang kurang. Memang, kita membantu orang berkembang, we help people develop the skill set, tetapi pada kenyataannya, we still need to do more. Terutama bagaimana untuk memberikan impact pada bisnis.
Waktu di Sampoerna (PT HM Sampoerna, Tbk – red) aku beruntung dapat kesempatan jadi HR Business Partner. Kenapa beruntung, karena sampai sekarang orang masih punya misconception tentang HRBP, karena banyak yang berpikir HRBP harus mengerjakan hal-hal admin untuk membantu unit business, which is wrong.
HRBP itu message-nya ada tiga, yaitu HR, business, dan partner. Kita bicara selain know people, harus know business. Kita bukan support function, tetapi partner. Bahkan, karena knowing the business, kita harus bisa anticipate the changes in business in order to prepare the people.
With that in mind, orang jadi heran, ini ngapain sih, aku dulu sampai ikut shift 3, waktu di pabrik. Why, because i have to understand what’s going on. In order to help company be more productive thru the people i have to understand what’s happening, what’s going on with the people. Misal di pabrik, shift 3 jam 11 malam sampai jam 7 pagi. Sementara kebanyakan HR kan kerjanya 9 to 5. So you only know the business during the daylight.
Jumping to the present, kalau di telco, you have to understand what’s going on in the market.
Waktu di consulting aku pernah jadi account manager. Itu berarti pegang sales juga. Ternyata being in sales sangat membantu saya, menjadi Chief HR. Karena at the end of the day, whether you are in HR, marketing, dan lain-lain, ujung-ujungnya harus bisa selling ideas. It’s about finding solution.

Mengapa memilih profesi HR?
Balik lagi memang interest. It’s always about how people impact the life. Di psikologi kan kita bicara individu ya, kalau individu kan dia happy atau gak,  dipengaruhi oleh kontribusi dia. Yang membuat orang happy gak happy itu juga kerja lho.
Sekarang waktu kita cuma 24 jam sehari, 7-8 jam tidur. Sisanya? Di kerja. Karena itulah interest saya lebih ke HR management in corporation.
Bu, tolong ceritakan lagi tentang Transformasi yang dimulai dari Symbol, System dan Behavior tadi.
Alhamdullilah in the past 4-5 years banyak perubahan yang terjadi. (di Indosat -red). Saya ambil contoh tentang transparansi atau openness. Coba, dulu gimana mau apa-apa cepat kalau ketemu aja susah. One of the first action adalah memindahkan lantai chief ke gedung yang sama. Jadi orang bisa gampang ketemu.
Saya adalah chief pertama yang let go ruangan saya. Saya percaya by being in the middle of them itu suasana lebih cair, apa-apa lebih cepat, dan mereka merasakan bahwa, we are in this together. Ada masalah kita atasi bersama. Jadi ada keterbukaan. 
Dulu, boro-boro staf. Manajer aja mau ketemu saya, harus ketemu atasannya dulu, trus atasannya lagi. Lalu lewat sekretaris saya. Beda gedung pula. Nah kapan kerjanya?
Seating juga bisa pindah-pindah. Hal ini secara signifikan mengubah speed kerja, interaksi, dan breaking down the silo.
Dengan arrangement baru ini, mulai terlihat, performance company mulai meningkat. Kita juga jadi lebih bisa menarik millenials. Tadinya kita sulit merekrut millennials. Sekarang 35% (karyawan millennials –red). Millennial mana mau kalau terlalu birokratis.
Again, do not underestimate the importance of symbol. Tapi is that enough, ya enggak. Selanjutnya behavior.  Leadership behavior juga penting, dan it start with me. Kalau saya preaching doang, ga ada gunanya.
Apa enaknya menjadi orang HR?
Enaknya karena, dealing with people is always a positive thing for me. I always enjoy dealing with people. Kemudian dealing with people itu, kadang-kadang orang suka lupa, bukan hanya profesional tetapi juga personal. Kalau lihat orang grow itu ada personal satisfaction. One of my dream, dan udah kejadian, menjadi kebanggaan buat saya kalau one of my team jadi HR leaders bahkan business leaders di tempat lain.
Yang kedua, kalau apa yang kita lakukan mempunyai impact pada bisnis. Kita adalah partner, jadi kita merasa part of the company.
Yang ketiga, dealing with people itu jauh lebih kompleks daripada mesin, atau angka. Kompleksitas dan unpredictable-nya lebih tinggi. Itu challenge sih.
Kalau gak enaknya?
Kalau gak enaknya apa ya? I really enjoy what I do.
Mungkin gini ya, gak enaknya itu, being in this market, masih banyak orang beranggapan bahwa HR itu kerjaan administratif, atau support function. No. Kalau ada orang bilang begitu, I would always challenge, misalnya, ini ada dua orang, sama-sama punya HP, sama-sama punya FB, tapi yang satu buat mata-matain mantan, satu lagi buat jualan produk-produk dia. Yang mana yang lebih produktif?
Bedanya di mana? Dua-duanya punya HP, HP-nya sama, dan FB juga sama. The difference is in the person. Itu menunjukkan pentingnya orang for the business. Jadi, HR itu adalah fungsi business. It’s a business partner function.
Dan saya beruntung, bos saya memberi saya kesempatan berkembang, aku gak hanya in charge untuk HR. Saat ini saya in charge untuk HR, corporate communication, which is ada CSR dan PR, plus saya dikasih kesempatan untuk menjadi presiden komisaris untuk salah satu anak perusahaan. I’m very happy and proud with the opportunity, karena berarti dipercaya bahwa it’s the people that drive the business.
Tips untuk rekan-rekan HR supaya semakin dipercaya sebagai business partner?
Understand the business , understanding the number, and talk in the business term. Saya ambil contoh ya. Waktu awal di sini saya rajin duduk di commercial forum. Sekarang saya minta team saya gantian, jadi biar mengerti what’s going on in the business, dan juga mengerti term-term, jargon-jargon di technical function maupun commercial function.
Yang kedua, be there where the action is. Kan kerjaan kita banyak. Tetapi jangan sampai kita being away from where business is happening. Kalau Anda gak terlihat nanti orang-orang akan bilang “ah lo kan taunya di belakang meja aja. Lo kan cuman denger-denger orang. You’re not part of the solution.”
Yang ketiga itu, di HR memang banyak prosedur, banyak proses, banyak aturan, segala macam yang terkait sama HR, tetapi yang terpenting adalah it’s about cari solusi bersama. Apa yang mendorong bisnis to grow sustainably.
Dan yang terakhir, tau gak apa… Saya banyak melihat HR leaders yang pinterr banget. Konsepnya, pengalamannya. Tetapi interestingly, kalau kita tanya CEO atau employee-nya, ada atau gak ada dia, ga ada bedanya.. Why? Ternyata tau konsep, know what to do, is one thing. Pertanyaannya, apakah punya courage, to become the driver of the change.
Itu enak gak enak ya, karena kalau kita drive the change, sometimes kita dianggap reseh. Dicap sotoy, dianggap nyusahin.
Menyambung yang tadi, tidak cukup misalnya open plan secara fisik, tetapi kebiasaan juga harus diubah. That’s the importance of culture transformation.

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
  • Indonesia
  • English
loading