Hery Kustanto : Jadi Orang HR Harus Banyak Akal

Hery Kustanto : Jadi Orang HR Harus Banyak Akal

Setiap kali membuka lowongan pekerjaan di Net TV, Hery Kustanto, yang mengemban profesi direktur HR perusahaan media televisi tersebut, mengaku selalu dibanjiri pelamar. Dari 60,000 lamaran yang masuk, Net TV hanya bisa menerima 200 orang. Animo job seeker yang tinggi untuk bekerja di Net TV seakan terkonfirmasi dalam survey terbaru Universum yang menempatkan Net TV di posisi ketiga tempat kerja most wanted di Indonesia. Salah satu orang di balik suksesnya employer branding Net TV khususnya di kalangan anak muda itu tak lain adalah Hery Kustanto, pria yang sudah banyak bergelut di manajeman SDM dunia pertelevisian.

Tentu saja prestasi lelaki kelahiran Pasuruan 9 Januari 1962 itu tidak sebatas employer branding saja. Karirnya di dunia HR telah dimulai sejak 1993 di SCTV, dan sejak itu telah menorehkan banyak prestasi, cerita, dan pengalaman. Mari kita simak langsung penuturan lulusan Sastra Inggris Universitas Kristen Malang ini melalui wawancara singkat dengan team Talenta berikut ini:

Bagaimana awalnya Bapak berkarir di HR?

Percaya gak percaya, dalam pekerjaan juga ada seperti sudah ditentukan jalannya. Just like the river flow, pada suatu saat kesempatan itu datang. Pada waktu itu di dunia TV banyak expatriat-nya. Contohnya dari Filipina, dari Amerika, dan lain-lain. Untuk itu diperlukan HRD yang bisa bahasa Inggris.

Waktu itu saya di bagian programming di SCTV (membuat program-program TV –red),  dan saya memang berminat pada pekerjaan HR seperti training dan lain-lain, karena itu saya ditawari bergabung di HR. Waktu itu saya langsung ditawari posisi asisten manajer untuk HR, dan tugas pertama saya adalah mereview kontrak expatriat. Terus, berlanjutlah karir saya di HR SCTV. Tak lama setelah itu kebetulan atasan saya waktu itu mendapatkan beasiswa Chavening untuk kuliah di Inggris. Saat itulah saya dipromosikan untuk menggantikan beliau menjadi manager HR.

Dari sana karir saya terus berlanjut di HR, cukup lama di SCTV, hingga akhirnya pada tahun 2010 saya sendiri mendaftar untuk program pensiun dini yang kebetulan saya sendiri yang buat (programnya –red).
Dari SCTV saya pernah bekerja di perusahaan Jepang di bidang pulp and paper, kemudian di Tripatra dan MNC group, hingga akhirnya ditawari bergabung di Net TV yang waktu itu baru akan berdiri. Kini, saya sebagai karyawan yang menyandang nomor 001 sudah hampir 5 tahun di Net TV.

Baca juga : Belajar dari Kisah Inspiratif Praktisi HR Profesional

Mengapa memilih profesi HR?

Kalau dilihat dari cerita saya, memang saya sendiri tidak pernah bercita-cita menjadi praktisi HR. Tetapi dari dulu saya memang senang dengan usaha untuk mengembangkan manusia dan manajemen. Saya senang melihat bagaimana manajemen sebuah perusahaan berhasil. Saya senang mengamati tipe orang seperti apa yang berhasil, tipe perusahaan yang seperti apa yang bisnisnya sukses. Saya selalu tertarik dengan hubungan dengan orang lain, relationship dengan orang lain itu sesuatu yang menarik, apalagi kalau kita bisa membantu. Bagi saya itu menyenangkan.

Apa enaknya menjalani profesi HR?

Membantu orang. Menurut saya value dari HR adalah membantu orang menemukan solusi atas permasalahan dia sebagai karyawan. HR harus banyak membantu dan memberikan personal touch ke karyawan. Contoh misalnya kalau orang sakit, reimburse jangan lama-lama. Kalau perlu bahkan diberikan sebelum karyawan sakit. Bila ada yang dinas luar kota misalnya, kita telepon untuk menanyakan bagaimana perjalanannya, kamar dan lain-lain. Sentuhan personal seperti itu, adalah suatu hal kecil, tapi dampaknya luar biasa.. bikin karyawan senang luar biasa..

Kalau gak enaknya?

Enaknya tadi kalau kita bisa bantu. Tugas HR itu membantu mendudukkan persoalan juga. Jadi misalnya kalau ada yang buruk dan melakukan kesalahan, dia harus menerima sanksi. Yang paling gak enak itu kalau harus melakukan PHK, rasionalisasi dll. Itu gak enak tetapi harus dilakukan, karena sebenarnya HR membantu dia juga mencari solusi untuk kehidupan dia juga. Tidak hanya menguasai UU no 13 (undang-undang ketenagakerjaan –Red), HR juga harus menguasai psikologi. Harus tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini, sehingga karyawan yang mengalami rasionalisasi misalnya, dengan rela menerima.

Tips agar dipercaya dan dapat menjadi Strategic Partner CEO?

Pertama harus tahu filosofinya. Perusahaan itu kan sebuah bisnis, karena itu segala sesuatu harus ada dihitung dan dipertimbangkan secara cermat. Sementara kadang-kadang kebutuhan karyawan itu ada normatifnya, tidak boleh di bawah normatif. Nah di situlah menjadi seorang praktisi HR harus banyak akalnya. Kita harus selalu bisa memikirkan cara kreatif untuk menyelaraskan kebutuhan bisnis dengan kebutuhan karyawan.

Kebetulan saya dekat dengan orang core business. HR harus tahu core business, sehingga bisa menyelaraskan kepentingan-kepentingan. Umpamanya begini, manajemen tidak memberi budget untuk training. Kita cari akal, misalnya dengan mencari barter, dan sebagainya.Biasanya kalau ada yang tidak selaras itu sebenarnya niat keduanya baik, niat manajemen baik, niat karyawan baik. HR jangan terlalu saklek. Di atas peraturan ada kebijakan.


PUBLISHED29 Jan 2020
Ervina
Ervina