fbpx

Remote Working Jadi Tren, Menguntungkan atau Merugikan Perusahaan?

BY Wiji
20 Jan 2020

Konsep bekerja remote (remote working) sudah tak asing bagi karyawan masa kini. Cara kerja model ini sudah banyak diadopsi oleh banyak perusahaan, khususnya startup. 

The IWG Global Workspace pernah melakukan survei kepada karyawan dan bertanya arti remote working. Sebanyak 27 persen mendefinisikan dengan kebebasan untuk memilih lokasi bekerja seperti di kota lain atau co-working space. Sedangkan 21 persen mengatakan bebas mengatur jam kerja, dan 27 persennya lagi mengaitkan dengan kebebasan memberikan beban pekerjaan. 

Ada beberapa perusahaan yang merasa cara bekerja ini tidak sama produktifnya dengan mengharuskan karyawannya datang ke kantor. Bekerja dari manapun pada dasarnya menghemat banyak waktu dan tenaga. Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi dan pulang dari kantor sampai naik transportasi yang padat orang, atau turun di jalan yang macet. 

Menerapkan cara kerja remote working bagi sebagian orang ternyata ada keuntungannya. Contoh sederhananya, jika bekerja dari rumah ternyata mampu meningkat tanggung jawab kepada keluarga. Tidak hanya itu, karyawan yang bekerja dari rumah mampu memonitor perkembangan sekaligus membimbing anak-anaknya serta menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi. Sedangkan untuk pemilik bisnis, logikanya sistem kerja ini bisa mengurangi biaya sewa, alat tulis, tagihan listrik, telepon, serta biaya lain yang dikeluarkan untuk kebutuhan karyawan. 

Nicholas Bloom, seorang profesor ekonomi dari Stanford University, dalam risetnya yang berjudul Does Working From Home Work? Evidence From A Chinese Experiment berpendapat karyawan yang menerapkan bekerja dari rumah ternyata memiliki kepuasan tinggi terhadap pekerjaannya. Dengan penerapan bekerja dari rumah, 25 persen karyawan ternyata memiliki level stres lebih rendah. Sedangkan 73 persen mengaku bisa mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dan 76 persennya lagi menunjukkan loyalitas kepada perusahaan. Sementara itu, 80 persen lainnya menyatakan memiliki keseimbangan hidup.

Jejak Gaya Hidup Remote Working

Remote working tidak datang secara tiba-tiba walaupun menjadi kebanggaan gaya bekerja saat ini. Model kerja unik ini ternyata jejaknya sudah ada sejak tahun 1970-an. Yang mencetuskan ide ini adalah Jack Nilles. Jack pernah menjadi Direktur untuk Divisi Penelitian Interdisipliner di University of Southern California pada 1973. Saat itu, dia menciptakan istilah telecommuting.

Secara definitif, telecommuting yang kemudian berubah menjadi teleworking (dalam perkembangannya) merupakan sebuah sistem yang mengedepankan fleksibilitas kerja. Sederhananya, karyawan tak perlu pergi ke kantor karena segala hal dapat dilakukan lewat bantuan teknologi. Lewat ide Jack ini lah, banyak karyawan sekarang yang akhirnya bekerja di rumah. Beberapa karyawan lain lebih nyaman bekerja secara nomaden, baik itu di kafe atau co-working space.

Gagasan telecommuting muncul seiring dengan berkembangnya teknologi era 1970-an awal di Amerika Serikat yang ditandai dengan terhubungnya kantor-kantor satelit ke perkotaan dan perumahan melalui dumb terminals (perangkat untuk memasukkan, mentransmisikan data ke, dan menampilkan data dari komputer) lewat saluran telepon sebagai jembatan jaringan (network bridge). Hal tersebut secara otomatis membuat penyusutan biaya yang signifikan, sehingga ide mengenai desentralisasi perkantoran pun turut pula mewabah.

Memasuki periode awal 1980, proses keterhubungan kantor-kantor cabang dan pekerja rumahan difasilitasi oleh groupware, jaringan virtual privat, video conference, dan VoiceoverIP (VoIP). Perusahaan pun menganggap hal ini sangat efisien dan bermanfaat. Itulah kenapa pada tahun 1983, sekitar 2000-an karyawan IBM sudah bekerja secara teleworking.

Pro Kontra di Perusahaan

Walaupun diklaim memiliki banyak keuntungan, remote working ternyata tidak selalu berdampak baik bagi karyawan. Di tahun 2013, CEO Yahoo, Marissa Mayer, melarang karyawannya untuk bekerja dari rumah. Dia menganggap untuk membuat sebuah perusahaan menjadi yang terbaik, komunikasi dan kolaborasi adalah hal penting. Hal itu sulit tercapai ketika karyawan memilih untuk bekerja secara remote daripada datang ke kantor. Hal lainnya, remote working ternyata diklaim menghambat produktivitas. 

Ada alasan lain mengapa remote working menjadi sebuah dilema besar bagi perusahaan. Survei yang dibuat Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di tahun 2017 ternyata bikin tercengang. Sebanyak 41 persen karyawan mengaku tertekan ketika bekerja di rumah. Hal ini berbanding terbalik dengan 25 persen karyawan yang bekerja di kantor. Faktor yang menyebabkan rasa tertekan ini beragam. 

Salah satunya adalah merasa terkucilkan dan tidak bisa berkomunikasi secara baik dengan rekan-rekannya. Hal ini dibenarnya oleh riset Joseph Grenny dan David Maxfield yang dimuat di Harvard Business Review.

Sementara itu pada 2014, The Guardian menurunkan artikel yang menyebutkan bahwa beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat seperti Best Buy dan Hewlett-Packard (HP) memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kebijakan remote working. Penyebabnya karena beberapa pekerjaan dianggap butuh kolaborasi dan inovasi yang harus digarap bersama oleh para karyawan di kantor.

Keputusan Yahoo, Best Buy, dan HP dengan kembali memakai sistem kerja konvensional memang cukup mengejutkan. Sebab banyak riset di tahun tersebut yang justru menunjukkan hal sebaliknya. Produktivitas karyawan meningkat karena remote working.

Apalagi pada masa sekarang, dengan kian masifnya sistem komputasi awan (cloud computing) dan ketersediaan teknologi wifi di berbagai lokasi, para telecommuters (panggilan untuk pekerja yang menerapkan telecommuting) kian mudah untuk mempraktikkan remote working. Ditambah dengan banyaknya perusahaan software Human Resource Information System (HRIS) yang menawarkan beragam kemudahan absensi kapanpun dan dimanapun dengan satu aplikasi.   

Remote Working untuk Jenis Pekerjaan Tertentu

Remote working ternyata tidak bisa dilakukan untuk semua jenis pekerjaan. Kunci untuk melakukan remote working adalah mengidentifikasi jenis pekerjaan. Bekerja remote memang menarik, tapi patut diingat bahwa pekerjaan ini memerlukan kemampuan dan keterampilan mutakhir yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Menurut penelitian firma teknologi MBO Partners, ada beberapa jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan remote. Misalnya developer situs atau aplikasi, wirausahawan e-commerce, digital marketing, copy editor, graphic designer, jurnalis lepas, hingga fotografer. 

Sedangkan di Indonesia, pemerintah mulai menguji coba model remote working untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ada 1.000 PNS berpangkat fungsional dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang sudah bekerja secara mobile mulai 1 Januari 2020 lalu. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan masa depan perkantoran pemerintah akan diselenggarakan dengan konsep smart office, layaknya perusahaan startup. Konsep ini diusung untuk menyesuaikan dengan pola hidup modern.

“Ke depan bentuknya smart office, tidak hanya dengan cara-cara yang sekarang. 1.000 orang kita bisa bekerja flexi job, flexi schedule, semuanya serba flexi, remote working,” katanya seperti dikutip, Rabu (15/1).  

Cara Efektif Mengelola Remote Working

Sebelum perusahaan Anda menerapkan remote working, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Misalnya jenis pekerjaan apa yang pas dan seberapa penting remote working tersebut dilakukan. Senior recruiter dari Hubspot.com, Sara DeBrule, berkolaborasi dengan penulis sales blog, Meg Prater, berbagi pengalaman mereka tentang remote working.  Lantas apa hasilnya?

Menurut mereka, perusahaan yang ingin menerapkan remote working pertama sekali harus mengetahui bagaimana karyawannya mempertahankan keteraturan diri. Selain diri sendiri, cara mereka mengatur proyek yang dilakukan secara kolaboratif juga harus diperhatikan terutama bagaimana mereka berkomunikasi dan mengelola jalannya proyek yang ditugaskan.

Karyawan memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang lebih memilih untuk bekerja di kantor dan bertemu rekan-rekannya, ada juga yang merasa lebih kondusif ketika bekerja dari rumah. Pentingnya kehadiran seorang karyawan di kantor harus dinilai dari tingkat urgency terutama menyangkut posisi dan tugas-tugasnya.

Remote working juga bisa memunculkan salah paham. Misalnya mereka yang bekerja dari luar dianggap  tidak memiliki jam kerja yang sama dengan karyawan yang masuk kantor. Menyikapi hal ini, sebuah perusahaan harus membuat peraturan yang jelas tentang remote working dan harus memiliki output yang maksimal dari setiap karyawan.

Craig Bloem, CEO dari FreeLogoServices.com pernah menulis di Inc.com, bahwa sebuah perusahaan harus membuat aspirasi-aspirasi yang spesifik serta jadwal yang terstruktur dan baik bagi karyawan yang bekerja remote. Kemudian meminta laporan pertanggungjawaban atas pekerjaan yang mereka lakukan.

Hal lain yang harus diterapkan adalah dengan menggelar virtual meeting per minggu. Virtual meeting penting untuk mengumpulkan semua karyawan yang bekerja remote, membahas pekerjaan dan target yang ingin dicapai, hingga menjaga kesatuan tim. Telecommuting atau remote working memang terlihat mudah. Tetapi, suatu perusahaan harus memastikan bahwa dengan remote working semua tujuan yang ditargetkan perusahaan bisa tercapai.


PUBLISHED20 Jan 2020
Wiji
Wiji

SHARE THIS ARTICLE:

Suka dengan Artikelnya?Talenta punya banyak buat kamu!

Dapatkan konten premium mulai dari Artikel, ebook, case study, white papers, info-graphics dengan berlangganan sekarang!